09/20/2005

FLU BURUNG LAGI....hiiiiiiiii!!!

Ini juga dari www.jawapos.co.id TODAY. Serem...... ! Jadi musti gmn ya...??? solusi pls dong ah...!!!

Selasa, 20 Sept 2005,
Dinyatakan KLB Nasional

medium_flu_burung_kebun_binatang_ragunan.jpg

Ditemukan Lagi 196 Babi yang Terinfeksi Flu Burung
JAKARTA - Mulai kemarin, serangan flu burung dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) nasional. Penyebarannya bertambah dan meluas. Pemerintah pun serius menanganinya untuk menghindari jatuhnya korban lagi.

"Setelah melihat kondisi terkini, pemerintah menetapkan kasus flu burung sebagai KLB nasional," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari kemarin.

Sekitar pukul 15.00 kemarin, Menkes melakukan sidak ke Pasar Cempaka Putih untuk mengetahui secara langsung kondisi unggas yang dijual di pasar tersebut. Dia didampingi empat dokter. Dalam sidak itu, ditemukan seekor ayam yang terindikasi flu burung.

Temuan tersebut memperkuat indikasi meluasnya serangan avian influenza. Sebelumnya, dua orang meninggal karena positif terkena flu burung. Sekarang, di Rumah Sakit Sulianti, Jakarta, masih ada penderita yang diduga terkena firus yang sama.

Dua hari lalu diumumkan, di Kebun Binatang Ragunan (KBR), Jakarta, ditemukan 19 unggas yang positif terinfeksi virus tersebut. Sementara itu, di Tangerang ditemukan 196 babi yang positif flu burung. Sebelumnya, ditemukan peternakan babi yang terserang dan babi-babinya telah dimusnahkan.

Direktur Kesehatan Hewan Deptan Tri Satya Tata Naipospos memastikan, Deptan akan memusnahkan babi-babi milik peternak di dua desa tersebut. "Pemilik ternak belum mengetahui bahwa babi-babinya akan dimusnahkan. Namun, mereka tidak perlu khawatir. Pemerintah akan mengganti kerugian mereka," ujarnya.

KBR juga sudah mengambil langkah penanganan. Antara lain, pemeriksaan darah karyawan. Yang mendapat giliran pertama adalah 40 orang yang merawat kelompok unggas. Satu di antara mereka sedang hamil delapan bulan.

"Banyak saudara yang menelepon. Mereka khawatir berdampak kepada kehamilan saya. Sebab, mereka tahu saya bekerja di bagian perawatan unggas," kata Ny Etik Kumalasari.

Wanita 29 tahun itu sudah enam tahun bekerja di KBR. Lulusan D3 Kesehatan Hewan UGM (Universitas Gadjah Mada) tersebut sehari-hari merawat 80 unggas. Dari belibis, burung rangkong, elang, hingga burung flamingo. Unggas terakhir itulah yang paling dia sukai. "Saya masuk ke sini bersamaan dengan burung flamingo. Saat itu, usia flamingo tiga bulan. Mudah-mudahan, burung ini tidak kena flu burung," kata perempuan yang menanti kelahiran anak ketiganya itu.

Apakah tidak takut terhadap kondisi bayinya di kandungan? "Saya pasrah sama Yang di Atas. Saya dan suami hanya bisa berdoa agar anak ketiga saya ini lahir tanpa kendala dan sehat," tutur perempuan yang menemukan jodohnya di KBR tersebut.

Sebagaimana diberitakan, Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyatakan, 19 hewan di KBR (dari 27 sampel) positif terinfeksi AI (avian influenza). Satwa-satwa tersebut langsung dikarantina. Antara lain, belibis Mandarin, bangau tong-tong, elang bondol, elang Sumatera, dan ayam kate. "Empat sampel lain masih meragukan, apakah positif atau tidak. Tiga sampel lagi negatif," kata Anton waktu itu.

KBR kemudian ditutup untuk umum selama 21 hari mulai kemarin. Menurut rencana, jika tak ada kendala, KBR kembali dibuka 9 Oktober mendatang. Selama penutupan, dilakukan sterilisasi.

"Karyawan di KBR sekitar 501 orang. Sebanyak 143 di antara mereka perawat satwa. Tahap pertama, yang diperiksa perawat unggas. Perawatan nonunggas juga akan diperiksa," papar Raizin Arsyad dari bagian Rumah Tangga dan Keamanan KBR.

Pemeriksaan darah kemarin dilakukan Seksi Surveilans Dinas Kesehatan DKI Jakarta. "Hasil pemeriksaan darah ini baru diketahui setelah enam hari," kata Paripurna H.S., Kasi Surveilans dan Epidemis Dinkes DKI Jakarta, kepada wartawan kemarin.

Darah yang sudah diambil dari para karyawan itu akan dikirimkan secara pararel ke litbang kesehatan dan laboratorium di Hongkong. "Jadi, separo dikirim ke litbang, separo lagi dibawa ke Hongkong," paparnya.

Apa yang dilakukan jika ternyata di antara sampel darah itu ada yang positif terkena flu burung? "Kita akan langsung bawa ke RS Sulianti. Di sana, akan ditangani secara intensif selama tiga kali masa inkubasi. Kira-kira 21 hari," jelasnya.

Tadi malam, Dinkes juga memberikan penyuluhan kepada warga di sekitar KBR. Itu dilakukan agar mereka tidak panik. "Kami juga menyediakan pelayanan kesehatan gratis untuk warga yang mengeluh flu atau sakit tenggorokan," kata Paripurna.

Menkes juga memanfaatkan sidaknya untuk memberikan penyuluhan kepada para pedagang dan konsumen. "Peternak dan pedagang agar selalu menggunakan sarung tangan dan masker supaya tidak tertular flu burung," sarannya.

Menurut Menkes, meski kasus flu burung telah meluas, masyarakat tidak perlu khawatir makan daging ayam. Sebab, bila dimasak dengan benar, virus flu burung akan mati. "Sejauh ini, penularan virus flu burung masih dalam tahap dari hewan ke manusia, dan belum ditemukan penularan dari manusia ke manusia. Karena itu, bila ada keluarga atau kerabat yang terkena flu burung, tidak usah dikucilkan," tuturnya.

Menkes juga mengimbau, apabila terkena gejala flu burung, segeralah ke rumah sakit. Sebab, penanganan dini bisa menolong korban. Rini Dina, penderita flu burung, tewas karena ketika dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi kritis.

Penyuluhan perlu dilakukan terus karena banyak orang yang takut dan tak tahu apa yang harus diperbuat. Rosa, seorang pembeli di Pasar Cempaka Putih, mengakui terus terang, sejak beberapa hari lalu, keluarganya tidak lagi mengonsumsi daging ayam. "Meski bila dimasak dalam waktu lama virusnya bisa mati, saya tidak mau ambil risiko," ujarnya.


Merebak di Munas PKBSI

Kasus flu burung mewarnai Musyawarah Nasional X Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) di Hotel Tunjungan, Surabaya, kemarin. Munas yang semula terfokus pada agenda perubahan PD/PRT (Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga) dan pemilihan pengurus baru itu menjadi ajang pembahasan antisipasi semakin mewabahnya virus H5N1 (flu burung, Red).

Mereka pantas khawatir karena flu burung telah masuk ke kebun binatang. Di Kebun Binatang Ragunan, telah ditemukan 19 spesies burung yang terinfeksi. Karena itu, sejak kemarin kebun binatang tersebut ditutup untuk pengunjung. Unggas yang terinfeksi itu, antara lain, bangau tong-tong (5 ekor), belibis Mandarin, belibis buah, elang kondor, kaka tua raja, ayam kate (3 ekor), bleang Sumatera, dan bleak (3 ekor).

Kepala Bidang Konservasi Ragunan Bambang Triana yang hadir di munas menyatakan, dirinya baru mendengar kabar penutupan Kebun Binatang Ragunan ketika berangkat ke munas. "Saya kurang tahu detail hasil penelitian Dinkes. Namun, kami upayakan untuk mengkaji lebih lanjut," ujarnya di sela-sela acara.

Bambang belum tahu apakah yang terserang tersebut antigen atau antibodinya. Bila yang terserang antigen, maka tak ada jalan lain kecuali memusnahkannya. Yang pasti, konservasi satwa Ragunan memang ditutup sementara."Kami akan melaksanakan setiap instruksi pemerintah. Kalau memang ditutup, tidak apa-apa selama demi kemaslahatan bersama," ungkapnya.

Ketua PKBSI Dwiatmo Siswomartono mengimbau, lembaga konservasi mengantisipasi proses migrasi burung yang terinfeksi virus avian influenza. Apabila tiap kebun binatang punya sanitasi yang baik dan memiliki tim kesehatan satwa yang memadai, taman satwa tersebut aman dari serangan virus yang mematikan tersebut.

"Saya cuma berpesan, khususnya kepada manajemen Ragunan, untuk mengarantina burung yang terinfeksi. Kotoran atau makanan sisa burung harus segera dibersihkan," tegas Dwiatmo. "Bila perlu, ruang gerak burung harus dibatasi," sambungnya.

Pria berkacamata itu menjelaskan, penanganan kasus tersebut memerlukan kerja sama yang komprehensif pihak-pihak terkait. "Dinkes sebagai pelopor diharapkan proaktif menginformasikan temuannya. Pemerintah harus memberikan kebijakan yang proporsional," pintanya.

Manajer Kebun Binatang Surabaya (KBS) Soetojo Soekomiharjo sudah mengantisipasi penularan flu burung. Dia yakin, KBS aman. "Meski demikian, kami akan tetap waspada terhadap burung migran. Tim dokter kami akan terus memantau kasus ini," ujar Soetojo yang juga ketuan panitia munas itu.

Tim dokter hewan KBS yang dikoordinatori drh Liang Kaspe melakukan antisipasi sejak tiga bulan lalu. Sanitasi digalakkan dan setiap hewan yang sakit diteliti sungguh-sungguh. (tom/kum/wws/man)